"Pendidikan manusia Indonesia seutuhnya; Pendidikan Akal, Pendidikan Hati, dan Pendidikan Jasad"

Selasa, 30 April 2024

Pepeling

SYARIAT

Hadits tentang Islam, iman dan ihsan yang juga diriwayatkan oleh ‘‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu. Dalam hadits ini beliau mengatakan:


بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ, لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ, حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم, فأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ, وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ, وَ قَالَ : يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِسْلاَمِ, فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم : اَلإِسْلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَإِ لَهَ إِلاَّ اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ, وَتُقِيْمُ الصَّلاَةَ, وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ, وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ, وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً. قَالَ : صَدَقْتُ. فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْئَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ. قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِيْمَانِ, قَالَ : أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ, وَمَلاَئِكَتِهِ, وَكُتُبِهِ, وَرُسُلِهِ, وَالْيَوْمِ الآخِرِ, وَ تُؤْمِنَ بِالْقَدْرِ خَيْرِهِ وَ شَرِّهِ. قَالَ : صَدَقْتَ. قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِحْسَانِ, قَالَ : أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ. قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ السَّاعَةِ قَالَ : مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ. قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنْ أَمَارَاتِهَا, قَالَ : أَنْ تَلِدَ الأَمَةُ رَبَّتَهَا, وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِيْ الْبُنْيَانِ, ثم اَنْطَلَقَ, فَلَبِثْتُ مَلِيًّا, ثُمَّ قَالَ : يَا عُمَرُ, أَتَدْرِيْ مَنِ السَّائِل؟ قُلْتُ : اللهُ وَ رَسُوْلُهُ أَعْلَمُ. قَالَ : فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Terjemah


Senin, 22 April 2024

I'tibar

GORESAN TINTA DARI PERJALANAN DAKWAH MBAH MUBIN


Suatu ikhtiar kecil dengan mengharap ridha dari Allah SWT dan sesepuh, serta berbagi kisah untuk diambil hikmah dan pelajaran


A. PENGANTAR KATA


بِسْمِ اللَّهِ الرِّحْمنِ الرَّحِيْمِ

Dengan menyebut nama Allah Swt. Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang penulis memulai ikhtiar kecil ini dengan berharap ridha dan ma’unah-Nya untuk kemaslahatan umat dan generasi penerus perjuangan Eyang Kyai Hasan Ulama’ dan seterusnya hingga akhir jaman. Shalawat dan salam Allah Swt. tercurah kepada nabiyullah warasuluhu Sayyiduna Muhammad Saw. Pemilik syafa’ah yang agung pada Hari Kiyamah. Wa ba’du:

Pembaca yang budiman!
Sering kali kita mendengar secara langsung bagaimana Mbah Mubin bercerita tentang masa kecil beliau, masa belajar beliau, masa riyadhah beliau, masa perjuangan beliau mengabdi kepada pimpinan, masa beliau mulai mengemban amanah yang sangat berat, hingga masa-masa hendak mewujudkan cita-cita mendirikan tempat pendidikan. Semua disampaikan secara lisan karena beliau tidak memiliki tenaga penulis (sekretaris) yang dapat membantu untuk ketertiban administrasi. Tetapi beliau pernah berpesan jikalau suatu saat kemudian cerita-cerita atau ucapan-ucapan itu dicatat juga bisa menjadi pelajaran-pelajaran bagi generasi-generasi sesudahnya.

Maka dari itu perlu kiranya penulis memulai menyusun tulisan ini sebagai ikhtiar kecil untuk mengabadikan pelajaran-pelajaran dari beliau baik itu tersurat maupun tersirat, senyampang masih banyak saksi sejarah yang bisa mengungkapkan informasi yang saling melengkapi.

Ya Allah, Ya Tuhan kami, semoga Engkau memberikan tambahan petunjuk dan mengasihi hamba-Mu, jamaah ubudiyah warga Syathariyah dengan mau saling mengasihi dan senang tolong-menolong, serta guyub-rukun menjalankan perintah-perintah-Mu. Semoga Engkau mencukupi segala permintaan kami. Aamiin.

B. MASA KANAK-KANAK 

Beliau dilahirkan di Desa Bibrik pada tanggal 22 Mei 1940, merupakan putra 3 dari 6 bersaudara [1] dari pasangan suami istri Muhammad Tafura dan Mainah.[2] Beliau aktif belajar di madrasah sore di mushola di Dukuh Sampung selain juga beliau sekolah pagi di Sekolah Rakyat (SR) yang ada di Desa Bakur bersama teman-teman beliau, salah satunya adalah Sarijo (asal Gersapi, sekarang di Ngelo Klagen), juga Kasi (alm.) yang buka warung di Patihan Kidul. Ketika beliau masih berumur 10 tahun ayahnya meninggal dunia dan melanjutkan pendidikannya beliau ikut asuhan kakak perempuan beliau yang sulung. Ketika masih kecil pernah diajak oleh ibunya mengikuti “berkahan” ke PSM Takeran kepada Kyai Imam Mursyid Muttaqien.

C. MASA REMAJA

Di malam hari beliau juga mengaji di Pondok milik Mbah Kyai Dhori. Dari arahan Mbah Kyai beliau disuruh mondok ke Bacem Pare Kediri, dengan dibekali sepucuk kertas alamat beliau akhirnya meminta untuk berangkat. Entah berapa lama beliau mondok di Kediri, kemudian beliau melanjutkan mondok ke Desa Kalangan Kecamatan Pujon Kabupaten Malang. Setelah mondok di Pujon beberapa tahun lamanya beliau melanjutkan mondok lagi ke Jember dan berikutnya ke Srono Muncar Banyuwangi.
Pernah melakukan riyadhah di tepi Selat Bali dan beliau mendapatkan pengalaman spiritual berjumpa dengan Wali Hidhir yang memberikan pesan akan memberikan ilmu yang bisa digunakan sebagai bekal untuk selamat hidup dunia hingga akhirat dengan memerintahkan agar semua ilmu-ilmu kanuragan dan berbagai pusaka dibuang ke laut (selat). 

D. MASA DEWASA

Di Banyuwangi pernah menikah dengan salah satu putri keluarga pesantren, namun tidak berlangsung lama. Dan di akhir riyadhahnya beliau menimba ilmu dan pengalaman ke Sumatera, sampai kemudian diminta ibunya untuk pulang ke Madiun dan berguru kepada Mbah Kyai Muchammad Chusnun Malibary Tanjunganom Nganjuk pada tahun 1970 an.

[1] Tukilah, Samyuti, Rosimun, Rojiyah, Suhadi, dan Zaini.
[2] Punya saudara permpuan bernama Maini

E. MASA BERGURU TAUHID

Setelah bertemu dan berguru kepada Mbah Kyai Muchammad Chusnun Malibary dalam kurun waktu tidak begitu lama (kurang lebih 

bersambung ....

Rabu, 17 April 2024

Dzikir

AJARAN DAN DZIKIR TAREKAT SYATHARIYAH


Ajaran dan Dzikir Tarekat SYATHARIYAH (1)

Bila menyebut sebuah ajaran tarekat, yang paling banyak diajarkan dalam ritualnya adalah dzikir. Dan dzikir adalah salah satu amalan yang paling utama dalam sebuah tarekat. Dalam salah satu hadisnya, Rasulullah Saw. bersabda, ''Ketahuilah bahwa sesungguhnya dzikir itu akan menenangkan hati. Sebaik-baik dzikir adalah dengan membaca Laa Ilaha Illallah (HR Baihaqi, Hakim, Ibnu Hibban, Ibnu Majah, Nasa’i dan Tirmidzi). ''

Karena itulah, dzikir dan wirid, untuk mendekatkan diri kepada Allah, menjadi hal yang paling utama dalam sebuah tarekat. Demikian halnya dengan Tarekat SYATHARIYAH. Dalam ajaran dan ritualnya, tarekat ini juga banyak melafalkan kalimat-kalimat tauhid dan Asmaul Husna sebagai bagian dari wirid dan dzikir.

Para pengikut tarekat ini akan mencapai tujuan-tujuan mistik (kesufian) melalui kehidupan asketisme atau zuhud. Untuk menjalaninya, seseorang terlebih dahulu harus mencapai kesempurnaan pada tingkat akhyar (orang-orang terpilih) dan abrar (orang-orang terbaik) serta menguasai rahasia-rahasia dzikir.

Perkembangan mistik tarekat ini ditujukan untuk mengembangkan suatu pandangan yang membangkitkan kesadaran akan Allah SWT di dalam hati, tetapi tidak harus melalui tahap fana’. Tarekat SYATHARIYAH percaya bahwa jalan menuju Allah SWT itu sebanyak gerak nafas makhluk, tetapi yang paling utama di antaranya adalah jalan yang ditempuh oleh kaum Akhyar, Abrar, dan Syattar. Ketiga kelompok tersebut memiliki metode masing-masing dalam berdzikir dan bermeditasi untuk mencapai intuisi ketuhanan, penghayatan, dan kedekatan terhadap Allah SWT.

Kaum Akhyar melakukannya dengan menjalani shalat dan puasa, membaca Al Qur'an, melaksanakan haji, dan berjihad. Sedangkan, kaum Abrar menyibukkan diri dengan latihan-latihan kehidupan zuhud yang keras, latihan ketahanan menderita, menghindari kejahatan, dan berusaha selalu menyucikan hati. Menurut para tokoh Tarekat SYATHARIYAH, jalan tercepat untuk sampai kepada Allah SWT adalah jalan yang ditempuh oleh kaum Syattar karena mereka memperoleh bimbingan langsung dari roh para wali.

Ada sepuluh aturan yang harus dilalui untuk mencapai tujuan tarekat ini, yaitu tobat, zuhud, tawakal, qana'ah, uzlah, muraqabah, sabar, ridha, dzikir, dan musyahadah (menyaksikan keindahan, kebesaran, dan kemuliaan Allah SWT). Dzikir dalam Tarekat SYATHARIYAH terbagi dalam tiga kelompok yang semuanya menitikberatkan pada pelafalan Asma'ul Husna (nama-nama Allah SWT). Ketiga kelompok tersebut menyebut nama-nama Allah SWT yang berhubungan dengan keagungan-Nya, menyebut nama-nama Allah SWT yang berhubungan dengan keindahan-Nya, dan menyebut nama-nama Allah SWT yang merupakan gabungan dari kedua sifat tersebut.

Para pengikut ajaran Tarekat SYATHARIYAH meyakini bahwa menyebut nama-nama Allah SWT yang berhubungan dengan keagungan-Nya akan menjadikan seorang salik (murid) lebih tunduk kepada-Nya. Nama-nama yang dimaksud adalah Al-Qahhar, Al-Jabbar, Al-Mutakabbir. Setelah merasakan dirinya semakin tunduk kepada Allah SWT, murid dapat menyebut nama-nama Allah SWT yang berhubungan dengan keindahan-Nya, yaitu Al-Malik, Al-Quddus, dan Al-Alim. Sedangkan, nama-nama Allah SWT yang berhubungan dengan kedua sifat tersebut di atas adalah Al-Mukmin dan Al-Muhaimin.

Ajaran dan Dzikir Tarekat SYATHARIYAH (2)

Riwayat Berdirinya PSM

SEJARAH PESANTREN SABILIL MUTTAQIEN (PSM) TAKERAN


1. Periode Awal (Masa Peirintis)

Periode Awal (Masa Peirintis) yaitu antara tahun 1880 M (1303 H) s/d 1936 M (1355 H)

Pesantren Sabilil Muttaqien (PSM) pada mulanya bernama "Pondok Takeran" adalah bentuk pesantren sentris, dengan sistem pengajarannya melalui pendekatan pondok murni. Pondok Takeran dirintis oleh Kyai Hasan Ulama’ yang merupakan seorang ulama’ ahli hikmah sufiyah (seperti tertuang dalam Majmu’ah Risalah) dengan dibantu oleh Kyai Moh. Ilyas pada tahun 1880 M / 1303 H. Kyai Hasan Ulama’ adalah putra Kyai Kholifah dan merupakan prajurit penasihat spiritual Pangeran Diponegoro yang mengungsi ke daerah timur (Desa Bogem, Sampung, Ponorogo tahun 1825 – 1830 M).

Setelah Kyai Khalifah wafat, Kyai Hasan Ulama’ meninggalkan Bogem menuju Takeran yang sebelumnya menetap sementara di Desa Tegalrejo dalam upaya proses pendalaman ilmu agama yang dimiliki, dirasa cukup mendalami ilmunya Kyai Hasan Ulama’ berangkat ke Takeran dan merintis berdirinya pesantren dalam bentuk pondok tradisional dan mengubah lingkungan masyarakat yang sebelumnya kurang tersentuh nilai-nilai moral menjadi lingkungan yang  agamis. Hal itu dapat dilihat dari aspek budaya yang berkembang di tengah masyarakat, serta berdirinya tempat-tempat ibadah (langgar/ surau) di beberapa tempat, yang pendirinya adalah santri-santri atau murid Kyai Hasan Ulama’.
*) Perjalanan / proses keilmuan Kyai Hsan Ulama’ terhimpun dalam buku tersendiri.

Strategi yang digunakan oleh Kyai Hasan Ulama’ dalam mengembangkan Pesantren Takeran adalah melalui pendekatan “magersari”. Cara ini ditempuh karena kondisi bangsa Indonesia masih berada di jaman kolonial, sehingga memerlukan bibit-bibit unggul sebagai kekuatan lahir maupun batin untuk menghadapi kekuatan penjajah yang sudah mengakar di bumi Indonesia. Cara tersebut ternyata cukup efektif dalam menghimpun kekuatan serta membentuk kader pesantren yang berkualitas. Terbukti jumlah santri di Takeran bertambah cukup banyak dan langgar atau surau bahkan masjid sudah berdiri bukan hanya di wilayah Takeran tetapi sampai ke daerah lain misalnya Magetan, Madiun, Nganjuk.

Pengembangan Pesantren Takeran tetap berlangsung sampai akhirnya Kyai Hasan Ulama’ wafat pada tahun 1914 M / 1337 H. Kelangsungan Pesantren Takeran diteruskan oleh putra-putranya serta pengasuh yang telah dididik di bawah pimpinan KH. Imam Muttaqien putra sulung Kyai Hasan Ulama’. Sistem yang digunakan tetap mempertahankan cara “magersari” yang telah ditanamkan oleh Kyai Hasan Ulama’, hanya pengembangannya telah luas.

Selanjutnya ....

2. Periode Pembaharuan

Minggu, 14 April 2024

Awrad

TUNTUNAN WIRID USAI SHALAT FARDHU


Wirid bakda shalat fardhu Subuh, Dhuhur, Ashar, dan Isya’:

 اِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَاِنَّا لَهٗ لَحٰفِظُوْنَ

رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِّلْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَ وَنَجِّنَا بِرَحْمَتِكَ مِنَ الْقَوْمِ الْكٰفِرِيْنَ

رَبَّنَا ظَلَمْنَآ اَنْفُسَنَا وَاِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ

صُمٌّ ۢ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَتَفَكَّرُوْنَ

لَا تُدْرِكُهُ الْاَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْاَبْصَارَۚ وَهُوَ اللَّطِيْفُ الْخَبِيْرُ

اِنَّمَآ اَمْرُهٗٓ اِذَآ اَرَادَ شَيْـًٔاۖ اَنْ يَّقُوْلَ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ

- Dzikir Nafi - Itsbat
- Doa
- Sujud syukur
- Doa lagi
- Surat Al Fatihah 9 x

Wirid bakda shalat fardhu Subuh, Dhuhur, Ashar, dan Isya’:
- Istighfar 2 imbangan
- Shalawat 2 imbangan
- Dzikir Nafi – Itsbat
- Doa
- Sujud Syukur
- Doa lagi
- Surat Al Fatihah 9 x

Artikel Kepesantrenan