"Pendidikan manusia Indonesia seutuhnya; Pendidikan Akal, Pendidikan Hati, dan Pendidikan Jasad"

Senin, 22 April 2024

I'tibar

GORESAN TINTA DARI PERJALANAN DAKWAH MBAH MUBIN


Suatu ikhtiar kecil dengan mengharap ridha dari Allah SWT dan sesepuh, serta berbagi kisah untuk diambil hikmah dan pelajaran


A. PENGANTAR KATA


بِسْمِ اللَّهِ الرِّحْمنِ الرَّحِيْمِ

Dengan menyebut nama Allah Swt. Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang penulis memulai ikhtiar kecil ini dengan berharap ridha dan ma’unah-Nya untuk kemaslahatan umat dan generasi penerus perjuangan Eyang Kyai Hasan Ulama’ dan seterusnya hingga akhir jaman. Shalawat dan salam Allah Swt. tercurah kepada nabiyullah warasuluhu Sayyiduna Muhammad Saw. Pemilik syafa’ah yang agung pada Hari Kiyamah. Wa ba’du:

Pembaca yang budiman!
Sering kali kita mendengar secara langsung bagaimana Mbah Mubin bercerita tentang masa kecil beliau, masa belajar beliau, masa riyadhah beliau, masa perjuangan beliau mengabdi kepada pimpinan, masa beliau mulai mengemban amanah yang sangat berat, hingga masa-masa hendak mewujudkan cita-cita mendirikan tempat pendidikan. Semua disampaikan secara lisan karena beliau tidak memiliki tenaga penulis (sekretaris) yang dapat membantu untuk ketertiban administrasi. Tetapi beliau pernah berpesan jikalau suatu saat kemudian cerita-cerita atau ucapan-ucapan itu dicatat juga bisa menjadi pelajaran-pelajaran bagi generasi-generasi sesudahnya.

Maka dari itu perlu kiranya penulis memulai menyusun tulisan ini sebagai ikhtiar kecil untuk mengabadikan pelajaran-pelajaran dari beliau baik itu tersurat maupun tersirat, senyampang masih banyak saksi sejarah yang bisa mengungkapkan informasi yang saling melengkapi.

Ya Allah, Ya Tuhan kami, semoga Engkau memberikan tambahan petunjuk dan mengasihi hamba-Mu, jamaah ubudiyah warga Syathariyah dengan mau saling mengasihi dan senang tolong-menolong, serta guyub-rukun menjalankan perintah-perintah-Mu. Semoga Engkau mencukupi segala permintaan kami. Aamiin.

B. MASA KANAK-KANAK 

Beliau dilahirkan di Desa Bibrik pada tanggal 22 Mei 1940, merupakan putra 3 dari 6 bersaudara [1] dari pasangan suami istri Muhammad Tafura dan Mainah.[2] Beliau aktif belajar di madrasah sore di mushola di Dukuh Sampung selain juga beliau sekolah pagi di Sekolah Rakyat (SR) yang ada di Desa Bakur bersama teman-teman beliau, salah satunya adalah Sarijo (asal Gersapi, sekarang di Ngelo Klagen), juga Kasi (alm.) yang buka warung di Patihan Kidul. Ketika beliau masih berumur 10 tahun ayahnya meninggal dunia dan melanjutkan pendidikannya beliau ikut asuhan kakak perempuan beliau yang sulung. Ketika masih kecil pernah diajak oleh ibunya mengikuti “berkahan” ke PSM Takeran kepada Kyai Imam Mursyid Muttaqien.

C. MASA REMAJA

Di malam hari beliau juga mengaji di Pondok milik Mbah Kyai Dhori. Dari arahan Mbah Kyai beliau disuruh mondok ke Bacem Pare Kediri, dengan dibekali sepucuk kertas alamat beliau akhirnya meminta untuk berangkat. Entah berapa lama beliau mondok di Kediri, kemudian beliau melanjutkan mondok ke Desa Kalangan Kecamatan Pujon Kabupaten Malang. Setelah mondok di Pujon beberapa tahun lamanya beliau melanjutkan mondok lagi ke Jember dan berikutnya ke Srono Muncar Banyuwangi.
Pernah melakukan riyadhah di tepi Selat Bali dan beliau mendapatkan pengalaman spiritual berjumpa dengan Wali Hidhir yang memberikan pesan akan memberikan ilmu yang bisa digunakan sebagai bekal untuk selamat hidup dunia hingga akhirat dengan memerintahkan agar semua ilmu-ilmu kanuragan dan berbagai pusaka dibuang ke laut (selat). 

D. MASA DEWASA

Di Banyuwangi pernah menikah dengan salah satu putri keluarga pesantren, namun tidak berlangsung lama. Dan di akhir riyadhahnya beliau menimba ilmu dan pengalaman ke Sumatera, sampai kemudian diminta ibunya untuk pulang ke Madiun dan berguru kepada Mbah Kyai Muchammad Chusnun Malibary Tanjunganom Nganjuk pada tahun 1970 an.

[1] Tukilah, Samyuti, Rosimun, Rojiyah, Suhadi, dan Zaini.
[2] Punya saudara permpuan bernama Maini

E. MASA BERGURU TAUHID

Setelah bertemu dan berguru kepada Mbah Kyai Muchammad Chusnun Malibary dalam kurun waktu tidak begitu lama (kurang lebih 

bersambung ....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Artikel Kepesantrenan