Senin, 04 November 2024
5 Prinsip Pendidikan Anak
Mengenal Luqman Al-Hakim
Siapa Luqman Al-Hakim?
- Senantiasi bersyukur kepada Allah Ta’ala
- Menjauhi kesyirikan
- Jangan bersikap sombong, bersikap tawadhu’ di hadapan manusia
- Ingatlah bahwa setiap amalan akan mendapat balasan
- Dirikanlah shalat, beramar ma’ruf nahi mungkar, dan bersabar terhadap setiap cobaan.
Selasa, 30 April 2024
Pepeling
بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ
بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ, لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ
السَّفَرِ وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ, حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم, فأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ, وَوَضَعَ
كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ, وَ قَالَ : يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِسْلاَمِ,
فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم : اَلإِسْلاَمُ أَنْ
تَشْهَدَ أَنْ لاَإِ لَهَ إِلاَّ اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ,
وَتُقِيْمُ الصَّلاَةَ, وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ, وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ, وَتَحُجَّ
الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً. قَالَ : صَدَقْتُ. فَعَجِبْنَا
لَهُ يَسْئَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ. قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِيْمَانِ, قَالَ :
أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ, وَمَلاَئِكَتِهِ, وَكُتُبِهِ, وَرُسُلِهِ, وَالْيَوْمِ
الآخِرِ, وَ تُؤْمِنَ بِالْقَدْرِ خَيْرِهِ وَ شَرِّهِ. قَالَ : صَدَقْتَ. قَالَ :
فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِحْسَانِ, قَالَ : أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ
فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ. قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ
السَّاعَةِ قَالَ : مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ. قَالَ
: فَأَخْبِرْنِيْ عَنْ أَمَارَاتِهَا, قَالَ : أَنْ تَلِدَ الأَمَةُ رَبَّتَهَا,
وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ
فِيْ الْبُنْيَانِ, ثم اَنْطَلَقَ, فَلَبِثْتُ مَلِيًّا, ثُمَّ قَالَ : يَا
عُمَرُ, أَتَدْرِيْ مَنِ السَّائِل؟ قُلْتُ : اللهُ وَ رَسُوْلُهُ أَعْلَمُ. قَالَ
: فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ
Terjemah
Senin, 22 April 2024
I'tibar
GORESAN TINTA DARI PERJALANAN DAKWAH MBAH MUBIN
A. PENGANTAR KATA
B. MASA KANAK-KANAK
Beliau dilahirkan di Desa Bibrik pada tanggal 22 Mei 1940, merupakan putra 3 dari 6 bersaudara [1] dari pasangan suami istri Muhammad Tafura dan Mainah.[2] Beliau aktif belajar di madrasah sore di mushola di Dukuh Sampung selain juga beliau sekolah pagi di Sekolah Rakyat (SR) yang ada di Desa Bakur bersama teman-teman beliau, salah satunya adalah Sarijo (asal Gersapi, sekarang di Ngelo Klagen), juga Kasi (alm.) yang buka warung di Patihan Kidul. Ketika beliau masih berumur 10 tahun ayahnya meninggal dunia dan melanjutkan pendidikannya beliau ikut asuhan kakak perempuan beliau yang sulung. Ketika masih kecil pernah diajak oleh ibunya mengikuti “berkahan” ke PSM Takeran kepada Kyai Imam Mursyid Muttaqien. C. MASA REMAJADi malam hari beliau juga mengaji di Pondok milik Mbah Kyai Dhori. Dari arahan Mbah Kyai beliau disuruh mondok ke Bacem Pare Kediri, dengan dibekali sepucuk kertas alamat beliau akhirnya meminta untuk berangkat. Entah berapa lama beliau mondok di Kediri, kemudian beliau melanjutkan mondok ke Desa Kalangan Kecamatan Pujon Kabupaten Malang. Setelah mondok di Pujon beberapa tahun lamanya beliau melanjutkan mondok lagi ke Jember dan berikutnya ke Srono Muncar Banyuwangi. Pernah melakukan riyadhah di tepi Selat Bali dan beliau mendapatkan pengalaman spiritual berjumpa dengan Wali Hidhir yang memberikan pesan akan memberikan ilmu yang bisa digunakan sebagai bekal untuk selamat hidup dunia hingga akhirat dengan memerintahkan agar semua ilmu-ilmu kanuragan dan berbagai pusaka dibuang ke laut (selat). D. MASA DEWASADi Banyuwangi pernah menikah dengan salah satu putri keluarga pesantren, namun tidak berlangsung lama. Dan di akhir riyadhahnya beliau menimba ilmu dan pengalaman ke Sumatera, sampai kemudian diminta ibunya untuk pulang ke Madiun dan berguru kepada Mbah Kyai Muchammad Chusnun Malibary Tanjunganom Nganjuk pada tahun 1970 an. [1] Tukilah, Samyuti, Rosimun, Rojiyah, Suhadi, dan Zaini. [2] Punya saudara permpuan bernama MainiE. MASA BERGURU TAUHIDSetelah bertemu dan berguru kepada Mbah Kyai Muchammad Chusnun Malibary dalam kurun waktu tidak begitu lama (kurang lebih bersambung .... |
Rabu, 17 April 2024
Dzikir
AJARAN DAN DZIKIR TAREKAT SYATHARIYAH
Ajaran dan Dzikir Tarekat SYATHARIYAH (1)
Riwayat Berdirinya PSM
SEJARAH PESANTREN SABILIL MUTTAQIEN (PSM) TAKERAN
1. Periode Awal (Masa Peirintis)
Periode Awal (Masa Peirintis) yaitu antara tahun 1880 M (1303 H) s/d 1936 M (1355 H)
Pesantren Sabilil Muttaqien (PSM) pada mulanya bernama "Pondok Takeran" adalah bentuk pesantren sentris, dengan sistem pengajarannya melalui pendekatan pondok murni. Pondok Takeran dirintis oleh Kyai Hasan Ulama’ yang merupakan seorang ulama’ ahli hikmah sufiyah (seperti tertuang dalam Majmu’ah Risalah) dengan dibantu oleh Kyai Moh. Ilyas pada tahun 1880 M / 1303 H. Kyai Hasan Ulama’ adalah putra Kyai Kholifah dan merupakan prajurit penasihat spiritual Pangeran Diponegoro yang mengungsi ke daerah timur (Desa Bogem, Sampung, Ponorogo tahun 1825 – 1830 M).Setelah Kyai Khalifah wafat, Kyai Hasan Ulama’ meninggalkan Bogem menuju Takeran yang sebelumnya menetap sementara di Desa Tegalrejo dalam upaya proses pendalaman ilmu agama yang dimiliki, dirasa cukup mendalami ilmunya Kyai Hasan Ulama’ berangkat ke Takeran dan merintis berdirinya pesantren dalam bentuk pondok tradisional dan mengubah lingkungan masyarakat yang sebelumnya kurang tersentuh nilai-nilai moral menjadi lingkungan yang agamis. Hal itu dapat dilihat dari aspek budaya yang berkembang di tengah masyarakat, serta berdirinya tempat-tempat ibadah (langgar/ surau) di beberapa tempat, yang pendirinya adalah santri-santri atau murid Kyai Hasan Ulama’.*) Perjalanan / proses keilmuan Kyai Hsan Ulama’ terhimpun dalam buku tersendiri.Strategi yang digunakan oleh Kyai Hasan Ulama’ dalam mengembangkan Pesantren Takeran adalah melalui pendekatan “magersari”. Cara ini ditempuh karena kondisi bangsa Indonesia masih berada di jaman kolonial, sehingga memerlukan bibit-bibit unggul sebagai kekuatan lahir maupun batin untuk menghadapi kekuatan penjajah yang sudah mengakar di bumi Indonesia. Cara tersebut ternyata cukup efektif dalam menghimpun kekuatan serta membentuk kader pesantren yang berkualitas. Terbukti jumlah santri di Takeran bertambah cukup banyak dan langgar atau surau bahkan masjid sudah berdiri bukan hanya di wilayah Takeran tetapi sampai ke daerah lain misalnya Magetan, Madiun, Nganjuk.Pengembangan Pesantren Takeran tetap berlangsung sampai akhirnya Kyai Hasan Ulama’ wafat pada tahun 1914 M / 1337 H. Kelangsungan Pesantren Takeran diteruskan oleh putra-putranya serta pengasuh yang telah dididik di bawah pimpinan KH. Imam Muttaqien putra sulung Kyai Hasan Ulama’. Sistem yang digunakan tetap mempertahankan cara “magersari” yang telah ditanamkan oleh Kyai Hasan Ulama’, hanya pengembangannya telah luas.
Selanjutnya ....
2. Periode Pembaharuan
Minggu, 14 April 2024
Awrad
TUNTUNAN WIRID USAI SHALAT FARDHU
- Doa
- Sujud syukur
- Doa lagi
- Surat Al Fatihah 9 x
Wirid bakda shalat fardhu Subuh, Dhuhur, Ashar, dan Isya’:
- Istighfar 2 imbangan
- Shalawat 2 imbangan
- Dzikir Nafi – Itsbat
- Doa
- Sujud Syukur
- Doa lagi
- Surat Al Fatihah 9 x

