"Pendidikan manusia Indonesia seutuhnya; Pendidikan Akal, Pendidikan Hati, dan Pendidikan Jasad"

Senin, 04 November 2024

5 Prinsip Pendidikan Anak

Lima Prinsip Pendidikan Anak

Dikutip dari Majalah Nurul Hayat Edisi 181 Pebruari 2019
Anak-anak kebanggaan kedua orang tua

Prinsip 1:
Iman dan Tauhid
"Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar." (QS. Luqman: 13)

Kecelakaan besar adalah ketika manusia tak mengenal Tuhannya. Lalu ia mati dalam keadaan tidak beriman atau dalam keadaan menyekutukan Allah Swt. Maka sehebat apapun ia di mata manusia, tetaplah ia akan merugi dan sengsara. Kesenangan dunianya tak akan pernah sampai pada kebahagiaan hakiki. Sebab bahagianya didasari nafsu. Kalaupun mengaku bahagia, pasti sementara. Lalu ia akan mendapati balasan akhiratnya.

Ada tambahan urusan lagi. Kalau tidak adanya iman itu faktor pendidikan orang tuanya, maka ia akan menyeret orang tuanya untuk ikut bertanggung jawab. Mending, kalau pertanggungjawabannya di hadapan hukum dunia. Masih bisa diatur sedemikian rupa. Dimainkan. Tapi kalau di akhirat? Tidak ada gunanya seluruh harta jabatan.

Maka dalam pendidikan anak, tidak ada yang lebih penting daripada pendidikan iman. Wajib hukumnya memberikan suasana rumah yang berhias iman untuk mereka. Gunakan pola komunikasi iman. Bicaralah dengan pembicaraan yang tidak berhenti pada apa yang dilihat dan didengar saja. semua jadi tidak terlalu penting, sebelum semua itu terhubung pada satu hal yang menjelaskan sifat Allah Swt. Tentang kekuasaan, kasih sayang dan janji balasan-Nya.

Anak-anak punya fitrah keimanan. Maka dalam urusan ini, orang tua sebenarnya tidak membuat suatu hal yang tidak pernah ada dalam diri mereka. Jiwa mereka telah tertanam iman. Konon di alam ruh, mereka berjumpa dengan Allah Swt. Bersaksi di hadapan Allah Swt sebagaimana firman-Nya,
"Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah Swt. mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi." (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (kekuasaan Tuhan)." (QS. Al A'raf: 172)

Tugas kita menyalakan kembali keimanan itu. Perlahan-lahan. Butuh proses memang. Sesuai perkembangan daya pikir mereka. Tapi jangan membatasi diri, dengan terus menerus menganggap mereka hanya anak kecil. Lalu berpikir pelajaran Tauhid itu akan diajarkan oleh guru agamanya nanti di sekolah. Salah besar. Guru Agama hanya mengajarkan teori dan dalil. Lalu diuji dengan soal ujian semester. Sedangkan iman bukan itu. Ia ada dalam wilayah rasa. Sesuatu yang diyakii. Maka perlu disentuh setiap saat. Diberikan contoh keteladanan. Dihadirkan dalam percakapan-percakapan.

Ia juga tak bisa hadir melalui paksaan. Karenanya jangan cepat merasa sudah menanamkan iman dengan benar. Meski melihat anak cepat hafal Al-Qur'an. Atau tidak melawan ketika dipaksa shalat. Bukan itu. Iman adalah soal kebebasan meyakini. Orang mempengaruhi sedikit demi sedikit. Terus menerus.

Selanjutnya perlu duji. Apakah pendidikan iman sudah tertanam. Dengarkan komentar-komentarnya. Dengarkan responnya. Perhatikan lontaran pertanyaan yang tiba-tiba muncul darinya. Apakah Anda melihat bibit iman pada ucapannya?

Prinsip 2:
Membangun Kebanggaan pada Orang Tua

Prinsip 3:
Tanamkan Keyakian Akhirat

Prinsip 4:
Shalat dan Memimpin Kebaikan

Prinsip 5:
Santun pada Sesama

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Artikel Kepesantrenan